06 Juli 2015

Rencana Perawatan dan Perbaikan Alutsista TNI Capai Rp 120,6 Triliun

06 Juli 2015


Fregat ringan F2000 dan korvet kelas Sigma (photo : pr1vat33r)

Jakarta - Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan TNI sedang menyusun rencana strategis (renstra) untuk perawatan dan perbaikan alutsista sebesar Rp 120,6 triliun. Dana renstra tahun 2015-2019 tersebut ingin segera didorong agar mendapat persetujuan presiden.

"Jadi kami sedang menyusun renstra perawatan dan perbaikan alutsista. Untuk AD Rp 9,3 triliun, AL Rp 17,4 triliun dan AU Rp 93,9 triliun," ungkap Moeldoko dalam pemaparan hasil kerjanya di hadapan komisi I DPR di Mabes TNI Cilangkap, Jaktim, Senin (6/7/2015).

Dengan dana perawatan dan perbaikan sebesar itu, diharapkan Moeldoko, renstra dapat terprogram dengan baik. Panglima TNI tidak ingin ada alutsista yang ditambal sulam lagi.

"Jangan sampai ada tambal sulam atau kanibal. Itu tidak boleh lagi. Ini keharusan. Kalau tidak prajurit TNI akan menghadapi situasi sulit nantinya. Renstra ini segera kami dorong ke presiden untuk disahkan melalui perpres," kata Moeldoko.

Mengenai alutsista, Panglima TNI mengakui bahwa betul masih ada 52 persen alutsista yang berusia di atas 30 tahun. Namun dengan adanya "minimum essential force", menurutnya alutsista-alutsista tua akan tergeser dengan sendirinya.

"Saya pikir dengan peremajaan melalui MEF kemarin, langkah kita sekarang 34 persen, pasti secara alamiah alutsista kita yang sudah kuno itu akan minggir pelan-pelan. Contoh, Marinir masih punya BTR buatan tahun 1957, sama seperti saya itu lahirnya, tapi masih terpelihara. Nanti secara alamiah akan tergeser," jelas jenderal bintang 4 itu.

Selain itu, Moeldoko menyebut TNI AD masih memili tank AMX yang baru saja diretrovit. Itu pun lama kelamaan akan dipensiunkan seiring adanya peremajaan alutsista.

"Memang benar kami masih punya alat-alat yang tua tapi secara alamiah melalui MEF akan bergeser," ucapnya.

Selain renstra pemeliharan dan perbaikan alutsista, TNI juga menyusun renstra pengadaan alutsista, dan renstra kesejahteraan prajurit serta PNS di jajaran TNI. Ini diharapkan dapat tercapai pada renstra 2015-2019.

"Itu termasuk juga di antaranya perumahan (untuk prajurit)," pungkas Moeldoko. 

(Detik)

Sea-Basing Ship to be Deployed in Sabah

06 Juli 2015

KD Tun Azizan sea base (photos : Bernama, Kamarul)

The construction of the Tun Sharifah Rodziah sea-basing ship in the waters off eastern Sabah will tighten maritime security, especially in the Eastern Sabah Security Command (Esscom) areas.



Armed forces chief Gen Tan Sri Dr Zulkifeli Mohd Zin said the sea-basing ship would be equipped with interceptor boats, unmanned aerial vehicles, helicopter and a Quick Reaction Force (QRF) team.

"The sea-basing ship would be accredited soon, probably in August," he said in Kuala Lumpur yesterday.



He said with the presence of the sea-basing ship, efforts to safeguard national waters, especially to intercept criminal boats in areas near southern Philippines, would be easier.

(The Malaysian Insider)

Skuadron Udara 32 : KC-130, Si Pompa Bensin Terbang

06 Juli 2015


Pesawat Hercules dari Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, menurunkan penerjun dalam latihan Sikatan Daya 2015, Kamis (4/6), di Air Weapon Range Pandanwangi, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Latihan tersebut untuk memantapkan kesiapan TNI AU dalam menjaga NKRI. (photo : Kompas)

Suatu operasi udara militer membutuhkan dukungan logistik, seperti kemampuan pengisian bahan bakar di udara. Di Indonesia, hal itu hanya disediakan oleh Skuadron Udara 32 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.

Pesawat yang menjadi "pompa bensin udara" tersebut adalah pesawat transpor-tanker Hercules dengan kode KC-130. KC adalah kependekan dari kerosene cargo atau pengangkut bahan bakar. Di Skuadron Udara 32, pesawat transpor ini memiliki registrasi 1309 dan 1310.

"Pesawat 1310 itu yang mengalami musibah di Medan pada 30 Juni lalu. Kita kehilangan para pilot dan awak yang sangat berharga, ditambah satu dari dua pesawat tanker yang selama ini mendukung operasi udara TNI AU dengan pengisian bahan bakar di udara," kata Komandan Wing 2 Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh Kolonel (Pnb) M Arifin.

Dengan jatuhnya pesawat 1310 itu, pesawat Hercules lainnya yang dioperasikan Skuadron Udara 32 bisa dikonversi untuk menjadi pesawat KC, tetapi harus dilakukan proses instalasi di luar negeri.

Arifin menuturkan, Singapura juga memiliki pesawat tanker jenis jet berbasis Boeing. Untuk operasi udara ke Australia melintasi wilayah Indonesia, pesawat tempur RSAF (Singapura) tidak perlu mendarat di Indonesia untuk mengisi bahan bakar karena bisa mengisi bahan bakar di udara dengan pesawat tanker tersebut.


KC-130B melayani pengisian bahan bakar di udara untuk pesawat Su-30 (photo : TNI AU)

Pesawat Hercules tipe KC buatan Amerika Serikat yang dioperasikan Skuadron Udara 32 ini, antara lain, pernah menjalankan prosedur pengisian bahan bakar untuk pesawat tempur Sukhoi 27 dan Sukhoi 30 buatan Rusia. Padahal, biasanya pesawat dari Blok Timur (Rusia) melakukan pengisian bahan bakar di udara dari pesawat tanker buatan Blok Timur. Demikian juga untuk pesawat yang dibuat Blok Barat.


"Kami menjalankan prosedur pengisian bahan bakar di ketinggian 10.000 kaki (sekitar 3 kilometer dari permukaan bumi) dan kecepatan 220 knot (sekitar 300 kilometer per jam). Pesawat Sukhoi mengisi bahan bakar secara bersamaan dari dua selang di kanan dan kiri Hercules. Pengisian berlangsung selama penerbangan sejauh 60 mil (sekitar 100 kilometer)," kenang Arifin tentang peristiwa yang terjadi pada 2010 itu.

Komandan Skuadron 32 Kolonel (Pnb) Sugeng menuturkan, selain dengan pesawat tempur Sukhoi, prosedur pengisian bahan bakar di udara juga dilakukan Skuadron Udara 32 dengan Skuadron Udara 12 Pekanbaru dan Skuadron Udara 1 Pontianak yang mengoperasikan jet tempur Hawk buatan Inggris (Blok Barat).

"Setahun bisa dilakukan 8-9 hingga 10 kali prosedur pengisian bahan bakar di udara. Kami punya prosedur operasi yang ketat untuk menjaga keamanan dan keselamatan," kata Sugeng.

Selain pengisian bahan bakar di udara, Skuadron Udara 32 selaku satuan pertama yang mengoperasikan C-130 Hercules di Indonesia juga menjalankan berbagai misi perang dan operasi militer selain perang (OMSP), seperti tanggap bencana.

Pada 1990-an, para penerbang Skuadron Udara 32 kerap mengikuti perlombaan "Air Rodeo" di Amerika Serikat. Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I Marsekal Muda A Dwi Badarmanto menuturkan, para penerbang TNI AU beberapa kali memenangi lomba "Air Rodeo" dan diakui kemampuan terbangnya oleh penerbang negara lain.


KC-130B Melayani pengisian bahan bakar di udara untuk pesawat Hawk 200 (photo : TNI AU)

Perawatan

Perawatan KC-130 Hercules sama dengan jenis pesawat Hercules lainnya, yaitu tipe B, C, hingga yang terbaru di Skuadron Udara 32 adalah tipe H, yaitu dilakukan dengan disiplin dan mengutamakan keselamatan penerbangan.

Kepala Seksi Pemeliharaan Skuadron Udara 32 Mayor (Tek) Dwiatmo J mengatakan, semua pesawat Hercules mendapat perawatan rutin setiap 50 jam terbang.

"Setelah 24 kali perawatan tiap 50 jam terbang, diadakan perawatan sedang berdasarkan usia pesawat tiga tahun atau 1.800-2.000 jam terbang. Setelah mencapai 3.600 jam terbang, diadakan structure integrated program (SIP). Mesin, badan pesawat), dan kesenjataan diperiksa serta diperbaiki dengan saksama," kata Dwiatmo. Dia menambahkan, mesin Rolls- Royce yang menjadi sumber tenaga Hercules memiliki masa pakai maksimal 22.000 jam terbang.

Perawatan ringan dan sedang dilakukan di Skuadron Udara 32 atau Skuadron Teknik 22 di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Untuk perawatan berat, Hercules akan diterbangkan ke Depo Pemeliharaan di Lanud Husein Sastranegara, Bandung.

Meski disiplin dan profesionalitas tetap dijaga, terkadang musibah terjadi, seperti yang menimpa pesawat KC-130 Hercules nomor registrasi 1310. "Kapten Sandy Permana dan para awak adalah penerbang dan teknisi yang sangat baik. Tidak ada kekurangan mereka. Saat baru mendarat di Medan, dia langsung mengirim pesan singkat untuk melapor ke saya. Dia melapor pukul 10.53 lihat ini di HP saya," kata Kol (Pnb) Arifin.


Pesawat F-16C/D sudah memiliki peralatan untuk pengisian bahan bakar di udara (photo : TNI AU)

Harapan

Para penerbang dan anggota Skuadron Udara 32 berharap mereka bisa mengabdi lebih baik lagi. Mereka berharap bisa mengoperasikan pesawat Hercules baru atau pesawat transpor lain yang baru. "Kalau tidak baru minimal pesawat Hercules retrofit. Kami senang sekali jika bisa diberi kepercayaan mengoperasikan Hercules tipe J (termodern) atau tipe H. Negara tetangga banyak yang memakai tipe J dan H. Kita baru punya beberapa tipe H hibah dari Australia," kata Arifin.

Komandan Lanud Abdulrachman Saleh Marsekal Pertama (TNI) Hadi Tjahjanto menuturkan, negara tetangga, seperti Malaysia, mengoperasikan pesawat transpor modern jenis A-400 M (military) buatan Airbus. Pesawat transpor jet buatan Amerika Serikat C-17 yang berbadan besar juga pernah mendarat di Yogyakarta saat mengirimkan bantuan untuk korban bencana gempa di daerah itu. "Lanud Abdulrachman Saleh siap mengoperasikan pesawat-pesawat baru. Saya mendukung harapan para penerbang yang menjadi operator pesawat transpor dan pesawat tanker itu," kata Hadi.

Skuadron Udara 32 yang sejarahnya menjadi operator pesawat transpor Antonov dan kini C-130 Hercules harus mendapat perhatian. Armada pesawat transpor amat dibutuhkan untuk mendukung kebijakan pertahanan pemerintah, yaitu mengedepankan kemanusiaan dan peperangan tidak konvensional.

(Kompas)

04 Juli 2015

Vietnam, Russia Closing in on Deal for 2 Gepard-Class Frigates

04 Juli 2015


Add with 2 more Gepard, Vietnam will have six Gepard class light frigates (photo : ttvnol)

Vietnam and Russia are in the final stages of negotiation for the sale of two Gepard-class (Project 11661) light frigates, sources familiar with the matter told RBTH.

Vietnam has four such Russian-made light frigates, with two of them undergoing weapons fitting at the moment.

A deal could be reached by the end of the month, the sources said.

The sources said the negotiations slowed down after China voiced its concerns over Russia supplying Vietnam with state of the art arsenal. China and Vietnam went to war in the 1970s and dispute certain islands in the South China Sea.

Moscow plans to overlook Beijing concern’s on Russia-Vietnam defense deals, the sources said 

Vietnam has four Russian-built Kilo class submarines and is expecting the delivery of two more. Vietnam is also looking to modernize its air force.

(RBTH)

Singapore Selects VL MICA for New Littoral Mission Vessels

04 Juli 2015


An artist's impression of the RSN's LMV in its final configuration. (Sing Mindef)

The Republic of Singapore Navy's (RSN's) new Littoral Mission Vessels (LMVs) will be equipped with MBDA's Vertical Launch (VL) Mica air-defence system, the service has confirmed.

The missiles will be deployed via a 12-cell vertical launching system (VLS) located on the forward section of the vessel, said Lieutenant Colonel Chew Chun-Chau who heads the RSN's LMV project office. He was speaking to IHS Jane's on the sidelines of a media briefing to mark the launch of first-of-class LMV Independence .

"The Mica system will be the platform's defence against a wide range of airborne threats, including hostile aircraft and missiles," said Lt Col Chew. (Jane's)

Malaysia, Singapore order VL MICA naval variant

European missile house MBDA Missile Systems has chalked up two additional sales for its VL MICA shipborne point defence missile system, bringing its total number of confirmed customers to six.

Malaysia and Singapore will now join Egypt, Morocco, Oman and the United Arab Emirates, all of which have previously specified the naval variant of the VL MICA system.

Earlier this year Malaysia's Boustead Naval Shipyard Sdn Bhd disclosed that VL MICA had been confirmed as the point defence missile system for the Royal Malaysian Navy's six-ship Second-Generation Patrol Vessel - Littoral Combat Ship (SGPV-LCS) programme. 

(Jane's)

Komandan Korps Marinir Resmikan Puslatpur Lampon Banyuwangi

04 Juli 2015


Puslatpur Korps Marinir Lampon ini untuk menambah kapabilitas Komando Latih Marinir 
(photo : Antara)

Banyuwangi (Antara Jatim) - Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) Buyung Lalana meresmikan sekaligus mengukuhkan Mayor Marinir Ronny Antonius Purba sebagai Komandan Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur) Korps Marinir-7 Lampon, Banyuwangi, Kamis.
     
"Peresmian Puslatpur Lampon ini merupakan realisasi dari kebijakan pemimpin TNI Angkatan Laut dalam rangka meningkatkan profesionalitas satuan dan efektivitas pembinaan latihan Pasukan Khusus TNI AL, Intai Amfibi Korps Marinir melalui penyediaan sarana dan prasarana latihan yang menantang," katanya.

Selain itu, katanya, peresmian Puslatpur Korps Marinir di Lampon juga sebagai bagian dari upaya pembangunan dan pembinaan kekuatan serta kemampuan Korps Marinir secara keseluruhan.

"Dengan peresmian Puslatpur Korps Marinir Lampon ini semoga mampu menambah kapabilitas Komando Latih Marinir dan juga dalam meningkatkan kemampuan daerah latihan Lampon dan sekitarnya sebagai kawah candradimuka prajurit-prajurit Intai Amfibi Korps Marinir," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa letak geografis Lampon yang strategis berada di ujung timur Pulau Jawa dan berhadapan langsung dengan wilayah pantai selatan dan Samudera Hindia yang memiliki ombak besar serta arus yang menantang.

"Kondisi itu sangat memadai sebagai sarana latihan lanjutan aspek laut dari prajurit Korps Marinir, yaitu renang, dayung, menembus gelombang serta medan belakang pantai yang masih cukup ideal untuk dijadikan tempat latihan operasi khusus tempur darat," ujarnya.

Namun demikian jenderal Marinir yang dikenal peduli terumbu karang ini mengemukakan pembinaan kemampuan dan peningkatan profesionalitas prajurit Korps Marinir tidak cukup dengan latihan dan tersedianya sarana dan prasarana latihan yang memadai.

"Tetapi juga harus ditopang dengan pembangunan moralitas yang kokoh sebagai landasan dalam membentuk jati diri prajurit. Oleh karena itu, peran masyarakat Lampon sangat diharapkan untuk menjadi mitra dalam menjaga dan membangun jati diri sebagai prajurit yang dicintai rakyat," katanya,

Ia menegaskan keberadaan masyarakat Lampon akan menjadi mitra Korps Marinir dalam membangun jati diri dan sebaliknya kehadiran Korps Marinir dapat menjadi mitra bagi pemerintah daerah, TNI dan Polri serta komponen masyarakat lainnya dalam memacu pembangunan Banyuwangi dan sekitarnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Buyung Lalana pada kesempatan itu mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas beserta jajarannya, satuan TNI maupun Polri serta instansi terkait juga masyarakat Lampon atas terwujudnya peresmian Puslatupur tersebut.

Hadir dalam peresmian itu Komandan Pasmar-1 Brigjen TNI (Mar) Kasirun Situmorang, Komandan Pasmar-2 Brigjen TNI (Mar) R.M Trusono, Asintel Dankormar Kolonel Marinir Lukman Hasyim, Asops Dankormar Kolonel Marinir Hasanudin, Asrena Dankormar Kolonel Marinir Endi Supardi.

Selain itu juga hadir Dankolatmar Kolonel Marinir Imam  Sopingi, Dandenjaka Kolonel Marinir Nur Alamsyah dan Komandan Lanmar Surabaya Kolonel Marinir Nurhidayat dan lainnya. 

(Antara)

Two LCHs to (be) Immediately Commissioned into PN Service

04 Juli 2015


HMAS Brunei L-127 and HMAS Tarakan L-129 (photo : Aus DoD)

Manila (PNA) - The Philippine Navy (PN) expects the arrival in the country of two Australian donated ships late this month.

Upon arrival, the two LCHs (landing craft heavy) will be immediately commissioned into Philippine Navy (PN) service, according to PN public affairs office chief Cmdr. Lued Lincuna said.

This is because the two Australian donated ships are operational and will leave Cairns under their own power, Lincuna said.

"They are operational and will require no refurbishment upon arrival in the Philippines," he added.

The PN operates around five LCUs in its fleet.

The two LCHs are expected to arrive in the Philippines by the last week of July or first week of August at the latest.

Lincuna said that this timetable was dependent on weather conditions considering that July and August were the usual typhoon months in the country.

He added that an initial sailing crew of 10 PN personnel had already departed for Cairns last June 29.

These men will compose the initial training and logistic crews of the two ships. Another 20 Navy personnel are expected to leave for Australia anytime this month to join the first group.

These LCHs are named the HMAS Tarakan and HMAS Brunei in the Royal Australian Navy service.

The two LCHs were decommissioned from Australian service at a ceremony in Cairns last Nov. 19, 2014.

LCHs are an extremely versatile vessel, capable of moving large amounts of cargo, personnel and equipment from larger ships to shore.

A very shallow draft (two meters) allows these ships to deliver personnel and equipment to areas otherwise unreachable especially during humanitarian assistance and disaster relief operations (HADR).

It is an all-welded twin-screw vessel, able to trans-ship cargo and supplies from ships lying offshore to water terminals or across the beach.

Maximum cargo load is governed by the load-fuel balance and varies between 140 and 180 tons.

A typical load of 175 ton gives the LCHs a range of 1,300 nautical miles, increasing to 2,280 nautical miles for a load of 150 tons.

Up to five shipping containers with HADR supplies and equipment can also be loaded in an LCH.

An LCHs is 44.5 meters long and have a draft of two meters, beam of 10.1 meters and displacement of 364 tons.

It has a speed of 10 to 13 knots and a range of 3,000 nautical miles and a crew of 15.

(PNA)